Segala sesuatu yang berhubungan dengan modern selalu diasosiasikan dengan Barat Eropa atau Amerika. Oleh karena itu, sebutan seni rupa Indonesia modern tidak bisa dilepaskan dari tradisi berkesenian di Eropa. Persentuhan seni Indonesia dengan seni modern telah berjalan lama dan mendalam sehingga secara langsung atau tidak langsung telah menimbulkan hubungan atau kontak budaya. Salah satu bentuk hubungan atau kontak budaya ini berlangsung melalui kolonialisasi penjajahan.Seni rupa modern di Eropa diproklamirkan sejak munculnya aliran post impresionisme awal abad ke-18. Saat itu ruang kebebasan untuk mencipta karya seni terbuka lebar yang diawali dengan tumbuhnya sikap individualistis dalam berkarya. Sikap individualistis semakin kokoh dengan makin maraknya eksperimen-eksperimen kaum seniman, baik dari masalah bahan, teknik, maupun pengungkapan ekspresi berkesenian seni kolektif Indonesia dan seni modern Eropa berjalan melalui pelukis-pelukis Eropa yang datang ke Indonesia. Persentuhan itu secara perlahan namun pasti telah menggugah individu-individu tertentu untuk membuka lembaran baru dalam berkesenian, yakni seni rupa baru. Pada zaman seni rupa Indonesia baru ini, terjadi beberapa perkembangan seperti Masa Raden Saleh Perintisan Pada pertengahan abad ke-19, dunia seni lukis atau seni gambar senimanseniman Indonesia masih mengacu pada gaya tradisional yang berkembang di daerah-daerah. Sebagian besar karya seni tersebut menyimpan potensi dekoratif. Misalnya, lukisan di Bali dan Jawa serta ornamen di Toraja dan Kalimantan. Sebagian ahli memandang Raden Saleh Syarif Bustaman 1807–1880 sebagai perintis seni lukis modern Indonesia. Ungkapan ini tidak berlebihan mengingat Raden Saleh merupakan orang Indonesia pertama yang mendapat bimbingan melukis secara khusus dari pelukis-pelukis bergaya naturalis dan realis keturunan Belgia yang pernah tinggal di Indonesia, yakni Payen. Atas rekomendasi Payen dan didukung oleh C. Reinwart, Raden Saleh berkesempatan belajar ke Eropa. Pada masa itu, belajar ke Eropa masih tergolong langka bagi kebanyakan penduduk Indonesia. Namun, karena Raden Saleh dipandang mempunyai bakat besar dan masih keturunan bangsawan maka keberangkatannya ke Eropa tak ada yang bisa menghalangi. Ia menjadi orang Indonesia pertama yang belajar seni rupa ke luar negeri. Di Eropa, Raden Saleh mendapat bimbingan dari pelukis potret terkemuka, Cornellius Krusemen dan pelukis pemandangan alam, Andreas Saleh sempat belajar di beberapa negara lainnya seperti Jerman. Di sana, ia bertemu dengan pelukis-pelukis potret lainnya. Ia juga sempat berkunjung ke Aljazair untuk mengadakan studi banding dan bertemu serta menjalin persahabatan dengan pelukis setempat, Horace Vernet. Setelah itu, ia berkunjung ke Prancis. Saat itu, di Prancis sedang berkembang aliran dari dua puluh tahun lamanya Raden Saleh berada di Eropa. Pada 1851 ia menyempatkan pulang ke Indonesia karena ia merasa rindu pada kampung halamannya. Tak berapa lama kemudian ia kembali lagi ke Eropa, dan pada 1879 ia menetapkan untuk pulang ke Indonesia dan selanjutnya bermukim di Bogor. Setahun kemudian, tepatnya 23 April 1880, beliau wafat di Bondongan, perjalanan hidupnya, dapat dikatakan bahwa Raden Saleh lebih lama tinggal di Eropa daripada di Indonesia. Karena itu wajar jika karya lukisnya hingga kini lebih banyak tersimpan di Eropa. Sekalipun demikian, emosinya yang romantis tentang Indonesia tidak pupus oleh kehidupan Eropa. Ia tetap menghasilkan karya-karya yang menunjukkan sikap nasionalisme karena saat itu Indonesia dalam masa penjajahan. Para ahli seni rupa memandang karya Raden Saleh secara tersirat memuat pesan kebangsaan yang tersembunyi seperti tampak dalam karyanya yang bertajuk Antara Hidup dan Mati. Karya ini memperlihatkan pertarungan antara seekor Banteng simbol keperkasaan dan kekuatan bangsa Indonesia dan dua ekor Singa simbol kerakusan dan ketamakan penjajah. Demikian pula lukisan Penangkapan monumental Raden Saleh yang tercatat antara lain Perkelahian dengan Binatang Buas, Hutan Terbakar, Banjir, Harimau dan Mangsanya, dan Merapi yang Meletus. Adapun lukisan potret yang pernah dibuatnya antara lain potret Sultan Hamengkubuwono VIII, potret seorang tua menghadap buku dan globe, potret putri-putri de Jonge, potret Hentzepeter, potret R. P. Bonington, dan potret Keluarga Raden Saleh. Hal tersebut merupakan sebuah contoh dari usaha pemerintah kolonial Belanda untuk mengasimilasikan masyarakat Jawa dengan budaya Masa Indonesia Jelita Mooi Indie Seni rupa Indonesia sejak meninggalnya Raden Saleh sempat mengalami masa kekosongan. Kehidupan penjajahan dan feodalisme yang sudah mengakar tidak memungkinkan Raden Saleh melakukan pengkaderan seni lukis. Pada awal abad ke-20, munculnya Abdullah Suryosubroto yang juga keturunan bangsawan Solo, bukan untuk melanjutkan gaya melukis Raden Saleh. Pada awalnya, Abdullah ke Eropa bermaksud mempelajari ilmu kedokteran. Namun, niat itu berubah karena ketertarikannya terhadap dunia seni lukis yang kemudian mengantarkannya menjadi mahasiswa pada salah satu akademi kesenian di dari Eropa, Abdullah 1878–1941 bermukim di Bandung dan kemudian mengembangkan gaya melukis sendiri, yang kemudian dikenal dengan sebutan Indonesia Jelita Mooi Indie. Gaya ini menekankan pada keelokan dan suasana kehidupan bangsa Indonesia dengan alamnya yang subur dan masyarakatnya yang tentram. Pemandangan alam merupakan objek lukisan yang sangat dominan. Apa saja yang indah dan romantis terlihat menyenangkan, tenang, dan damai. Lukisan-lukisan itu hanya membawa satu makna, yaitu Indies yang molek’ bagi orang asing dan para pohon kelapa, dan sawah adalah objek-objek yang dituangkan dalam karya seni oleh para seniman. Demikian juga lukisan wanita-wanitanya yang elok nan cantik. Pelukis pribumi lainnya yang gemar dengan gaya ini adalah Wakidi, M. Pirngadie, Basuki Abdullah, dan sebelum gaya ini dikembangkan Abdullah telah hadir pelukispelukis asing yang sengaja diundang oleh pemerintah Kolonial Belanda untuk bekerja sebagai pelukis pesanan. Pelukis-pelukis tersebut antara lain W. G. HoĤer Belanda, R. Locatelli Italia, Le Mayeur Belanda, Roland Strasser Swiss, E. Dezentje Belanda, dan Rudolf Bonnet Belanda.3 Masa Cita Nasional Gaya melukis Mooi Indie tidak terlepas dari kaca mata orang Barat yang memandang bahwa alam Indonesia adalah surga. Padahal pada kenyataannya kehidupan rakyat Indonesia itu penuh dengan kemelut, kemelaratan, tekanan, dan berbagai penderitaan hidup lainnya. Kondisi inilah yang memunculkan kelompok pelukis yang memiliki empati tinggi terhadap kemelaratan rakyat jelata sebagai penolakan dari gerakan sebelumnya. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat kebanyakan pelukis yang bergabung dengan kelompok ini berasal dari kalangan rakyat sehingga mereka merasakan penderitaan dan kepahitan hidup rakyat terjajah. S. Sudjojono 1913–1986 sebagai penggerak kelompok ini sama sekali tidak pernah belajar seni rupa ke Eropa. Pelukis-pelukis yang tergabung ke dalam kelompok ini antara lain Agus Djaya Suminta, L. Sutioso, Rameli, Abdul Salam, OĴo Jaya, S. Sudiarjo, Emiria Sunassa, Saptarita Latif, Herbert Hutagalung, S. Tutur, Hendro Jasmara, dan memperkokoh gerakan dan menyamakan persepsi, kelompok ini kemudian membentuk Perkumpulan Ahli Gambar Indonesia PERSAGI pada 1938 di Jakarta. Karena tujuan utamanya adalah menggalang solidaritas nasional antarseniman lokal dalam mengembangkan seni lukis yang bercorak Indonesia asli, mereka senantiasa membuat sketsa-sketsa tentang corak kehidupan masyarakat saat itu di berbagai masa ini, S. Sudjojono berhasil menciptakan karya monumental, seperti Di Depan Kelambu Terbuka, Cap Gomeh, Jongkatan, Mainan Anak-Anak Sunter, Sayang Saya Bukan Anjing, serta Nyekar dan Bunga Kamboja. Agus Djaya Suminta menghasilkan karya Bharata Yudha, Arjuna Wiwaha, Dalam Taman Nirwana dan Suara Suling di Malam Hari. Sementara itu, OĴo Jaya melahirkan karya Penggodaan dan Wanita Masa Pendudukan Jepang Masa imperialisme di Indonesia belum berakhir meskipun Belanda harus angkat kaki dari bumi Indonesia. Hal itu karena Indonesia mengalami penjajahan Jepang 1942–1945. Pada zaman pendudukan Jepang, tepatnya pada 1942, PERSAGI dipaksa bubar. Seniman yang lahir dari kalangan grass root akar rumput, yakni masyarakat bawah, jumlahnya semakin banyak. Sementara itu, tentara pendudukan Jepang yang berkuasa saat itu sangat jeli melihat perkembangan kesenian Indonesia. Pada 1945, mereka mendirikan sebuah lembaga dengan nama Jepang Keimin Bunka Shidoso Pusat Kebudayaan yang pengajarnya merupakan mantan anggota PERSAGI seperti Agus Djaya Suminta dan S. Sudjojono. Mereka yang menyediakan sarana untuk kegiatan masa ini, sekalipun kehidupan perekonomian masyarakat Indonesia serba kekurangan, namun kehidupan berkesenian tampak berkobar-kobar. Para pelukis pun mendapat angin segar dari tentara pendudukan Jepang. Angin segar ini dimanfaatkan oleh para pelukis Indonesia untuk melakukan pameran. Tujuannya di samping memamerkan karya-karya pelukis lokal, juga sebagai ajang penyebaran rasa kebangsaan kepada masyarakat luas. Pelukis yang turut serta memamerkan karya lukisnya ialah Basuki Abdullah, Affandi, Kartono Yudhokusumo, Nyoman Ngedon, Hendra Gunawan, Henk Ngantung, dan OĴo sisi lain, perubahan sosial politik terus bergulir dan semakin mempertebal jiwa nasionalisme rakyat. Sebagai wadah tempat penampungan aspirasi rakyat, dibentuklah lembaga yang berupaya mempersiapkan segala sesuatu hal yang mungkin terjadi. Lembaga itu didirikan oleh Ir. Soekarno, Manshur, dan Ki Hajar Dewantara dengan nama Poesat Tenaga Rakjat atau POETRA. Salah satu bidang yang dikelola lembaga ini adalah seni lukis. Dengan demikian, seni lukis pun memiliki peran aktif dalam menyebarkan jiwa nasionalisme. Secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa seni lukis memiliki andil besar dalam mencapai kemerdekaan bangsa Indonesia. Para pelukis yang pernah aktif dalam lembaga POETRA adalah para pelukis dari berbagai aliran seperti S. Sudjojono, Affandi, Hendra Gunawan, Sudarso, Barli Sasmita dan Masa Sesudah Kemerdekaan Keadaan negara setelah proklamasi kemerdekaan 1945 tidak menghentikan aktivitas kesenian. Saat itu seni lukis dijadikan media untuk berjuang. Perkembangan seni lukis di Indonesia menunjukkan kemajuan yang pesat karena seni lukis telah menyatu dengan semangat perjuangan kemerdekaan bangsa. Jiwa kepahlawanan ini dibuktikan dalam bentuk poster-poster perjuangan dan lukisan sketsa di tengahtengah pertempuran. Salah seorang pelukis yang pernah melakukan hal itu ialah Djajengasmoro bersama kelompok Pelukis pusat pemerintahan ke Yogyakarta pada 1946 diikuti dengan hijrahnya para pelukis. Kota Yogyakarta pun menjadi pusat para pelukis. Pada 1946 di Yogyakarta, Affandi, Rusli, Hendra Gunawan, dan Harijadi membentuk perkumpulan Seni Rupa Masyarakat. Setahun kemudian, yaitu pada 1947 mereka bergabung dengan perkumpulan Seniman Indonesia Muda SIM yang dibentuk pada 1946 di Madiun dengan pelopor kegiatan SIM berpindah dari Madiun ke Surakarta dan kemudian berpindah lagi ke Yogyakarta. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi keadaan yang masih sering bergolak. Di Yogyakarta, anggota SIM menerbitkan majalah bernama Seniman. Melalui majalah, disebarkan berbagai ajakan kepada para seniman berbakat agar bergabung sehingga anggotanya terus bertambah. Beberapa orang yang bergabung di antaranya Suromo, Surono, Abdul Salam, Sudibyo, dan Trisno Sumarjo. Namun, pertentangan internal di antara pengurus membuat Affandi dan Hendra Gunawan keluar dari SIM. Kemudian, mereka membentuk kelompok Peloekis Rakjat yang di dalamnya terdapat Soedarso, Kusnadi, Sasongko, Dullah, Trubus, Sumitro, Sudoardjo, dan Masa Pendidikan Formal Pada 1949, R. J. Katamsi dengan beberapa seniman anggota SIM, Pelukis Rakjat, POETRA, dan Budayan Taman Siswa merintis akademi Seni Rupa Indonesia ASRI yang kini berubah menjadi ISI. Tujuan didirikannya akademi ini adalah untuk mencetak calon-calon seniman. Para tokoh ASRI antara lain S. Soedjojono, Hendra Gunawan, Djajengasmoro, Kusnadi, dan itu, di Bandung pada 1950-an berdiri pula Balai Perguruan Tinggi Guru Gambar yang dipelopori oleh Syafe’i Soemardja. Ia dibantu oleh Mochtar Apin, Ahmad Sadali, Sudjoko, dan Edi Karta Subarna. Sejak 1959, lembaga ini berubah nama menjadi jurusan Seni Rupa pada Institut Teknologi Bandung ITB.Pada 1964, berdiri pula jurusan Pendidikan Seni Rupa IKIP Bandung saat ini bernama Universitas Pendidikan Indonesia yang dipelopori oleh Barli, Karmas, Popo Iskandar, Radiosuto, dan Wiyoso Yudoseputo. Sebagian alumni Jurusan Seni Rupa IKIP Bandung yang menekuni seni lukis adalah seniman Oho Garha, Nana Banna, Hidayat, Dadang MA, dan Hardiman. Beberapa tahun kemudian dibuka jurusan seni rupa di IKIP lainnya di seluruh Masa Seni Lukis Baru di Indonesia Sejalan dengan perkembangan teknologi dan masyarakat yang mulai maju, sekitar 1974 lahirlah kelompok seniman muda di berbagai daerah. Para seniman muda yang tergabung dalam gerakan ini antara lain Jim Supangkat, S. Prinka, Satyagraha, F. X. Harsono, Dede Eri Supria, dan Munni Ardi. Mereka menampilkan corak baru dalam penggarapan karyanya. Pameran perdana karya mereka yang diadakan di Taman Ismail Marzuki TIM Jakarta banyak mengundang perhatian masyarakat. Karya-karya para seniman muda yang kebanyakan masih kuliah itu didasari oleh alasan-alasan sebagai berikut. Membongkar peristilahan seniman sebagai atribut yang hanya dilekatkan pada kalangan akademis saja, sementara masyarakat kecil yang bergiat dalam kesenian tidak mendapat tempat yang semestinya. Menggugat batasan-batasan seni yang sudah lama dipancangkan oleh seniman tua. Ini berarti menghindari adanya pembingkaian seni dalam satu kaca mata. Berusaha menciptakan sesuatu yang baru dengan berbagai media, konsep berkarya, dan lain-lain. Penciptaan karya seni tersebut tidak terkecuali seni yang diterapkan pada hal yang dipandang sakral.
Lukisan Virgin and Child with Canon van der Paele karya Jan van Eyck. Renaisans adalah salah satu masa yang paling banyak dibahas, khususnya dalam hal seni. Pada masa ini, muncul banyak seniman produktif yang pengaruh dan karya seninya masih dibicarakan dan dikagumi hingga saat ini. Maka, tak mengherankan jika Renaisans dianggap sebagai periode paling berpengaruh dalam perkembangan seni karya seni, khususnya dalam bentuk lukisan yang dibuat pada masa Renaisans, masih tetap terkenal seiring waktu karena dianggap sebagai lukisan paling ikonik yang pernah sekian banyak seniman di zaman Renaisans, kali ini kita akan membahas beberapa pelukis yang paling terkenal pada zaman Renaisans dan keunikan yang mereka miliki. Berikut informasinya yang dirangkum dari laman Art in Context dan The Sandro Botticelli 1445-1510Lukisan Madonna of the Pomegranate karya Sandro Botticelli Botticelli adalah salah satu seniman legendaris yang membantu membentuk zaman keemasan Renaissance Awal. Botticelli memiliki tekad untuk menangkap kembali cita-cita estetika dunia kuno, yaitu harmoni, simetri, dan keseimbangan. Sebagai seorang pelukis, ia memunculkan suasana transenden dan tenang melalui penggunaan warna bercahaya dan sapuan kuas yang halus dalam setiap lain yang berkontribusi pada kesuksesan Botticelli sebagai seorang pelukis adalah kepadatan lukisannya. Setiap lukisannya biasanya diisi dengan berbagai macam figur, simbol, dan gambar. Banyaknya materi ini memungkinkan kita untuk menghabiskan waktu yang lama untuk memeriksa dan merenungkan makna dan efek dari berbagai Hieronymus Bosch 1450-1516Lukisan The Garden of Earthly Delights karya Hieronymus Bosch. Bosch merupakan tokoh penting di sekolah seni lukis Belanda awal. Lukisan karyanya menunjukkan pendekatan seni yang benar-benar unik dengan tema kematian, akhirat, dan tema yang membuat bingung. Bosch juga terkenal karena melukis sejumlah adegan neraka yang meresahkan, beberapa di antaranya membuat penggunaan warna yang tak biasa, sehingga sangat yang paling terkenal, The Garden of Earthly Delights, menunjukkan lanskap yang penuh dengan sosok telanjang serta serta hewan eksotis. Lukisannya yang fantastis telah membuat banyak sejarawan seni memuji Bosch sebagai Father of Leonardo da Vinci 1452-1519Lukisan Mona Lisa karya Leonardo da Vinci. pixabay/Free-PhotosLeonardo da Vinci bisa dibilang salah satu tokoh seni yang paling berpengaruh sepanjang masa. Bukan hanya seniman, da Vinci juga merupakan ahli di bidang matematika, teknik, hingga astronomi, tetapi ia paling dikenal sebagai seorang seniman. Karya seninya yang paling terkenal adalah lukisan yang berjudul Mona Lisa, yang menjadi lukisan paling dikenal dan direproduksi di dunia. Kemampuan da Vinci untuk membuat lukisan yang menarik muncul dari pemahamannya tentang teknik. Studinya tentang perspektif dan proporsi dituangkan dalam Vitruvian Man, memungkinkannya untuk mereproduksi realitas dengan tingkat akurasi yang luar biasa. Baca Juga 7 Pelukis Perempuan Paling Dikenang di Dunia, Girls Power 4. Matthias Grünewald 1470-1528Lukisan The Crucifixion karya Matthias Grünewald Grünewald adalah seorang seniman Renaisans asal Jerman. Ciri khas lukisan Grünewald adalah menyampaikan gaya yang sangat hidup dan pribadi dengan warna yang kaya dan ekspresi dramatis. Cahaya dan bayangan, figur terdistorsi, dan materi pelajaran yang mencolok semuanya digabungkan dalam mahakarya Grünewald untuk menciptakan rasa transendensi seni sering membandingkan karya Grünewald dengan Albrecht Dürer yang hidup pada zaman yang sama. Meskipun keduanya memiliki gaya lukisan yang sangat bervariasi, banyak lukisan Grünewald secara historis dikaitkan dengan Giotto di Bondone 1267-1337Lukisan Crucifixion of Jesus karya Giotto di Bondone. di Bondone adalah pelukis dan arsitek Italia yang sukses menghasilkan beberapa lukisan paling ikonik dari era Renaisans. Giotto juga dipandang sebagai salah satu seniman terpenting dalam seluruh perkembangan seni Barat karena dia dikatakan sebagai salah satu seniman yang pertama terkenal dari gaya uniknya dalam menambahkan rasa kemanusiaan pada tradisi seni Abad Pertengahan. Gaya lukisan Gitto membantu memperkenalkan era baru dalam seni lukis yang menggabungkan kekunoan agama dan gagasan humanisme Renaisans yang berkembang. Karya yang ia hasilkan mendominasi seni Eropa dan dikatakan tidak ada bandingannya sampai Michelangelo yang agung mulai memproduksi karya serupa dua abad Jan van Eyck 1390-1441Lukisan Virgin and Child with Canon van der Paele karya Jan van Eyck. van Eyck adalah pelukis Belanda yang dianggap jenius dalam lukisan cat minyak. Dikenal karena gaya pewarnaannya, adegan naturalistik, dan ketajamannya terhadap detail dalam semua lukisannya, van Eyck menggunakan cat minyak untuk efek yang dimilikinya. Karena tingkat kepiawaiannya dalam melukis, karya van Eyck menjadi sangat sulit ditiru. Dengan menyajikan hal-hal seperti permata berkilauan, logam reflektif, kain mewah, dan kulit manusia yang halus dengan detail seperti itu, van Eyck menambahkan kualitas yang berbeda dalam Albrecht Dürer 1471-1528Lukisan berjudul Self Potrait karya Albrecht Dürer. Dürer dianggap sebagai pelukis yang sangat ahli dalam hal detail, cahaya, dan realisme. Semasa hidupnya, Dürer relatif terkenal baik di dalam maupun di luar negeri karena lukisan cat minyak, gambar, cetakan terukir, dan karya lukisan Dürer cenderung memadukan tren dari seni Italia dan Eropa Utara serta memiliki perhatian yang luar biasa terhadap detail. Dürer juga dikenal sebagai seniman non-Italia pertama yang menerapkan tema-tema seperti filsafat kontemporer dan berbagai gagasan teologis pada pelukis di zaman Renaisans ini memang memiliki ciri khas yang sangat unik dalam lukisannya. Tak mengherankan jika lukisan karya mereka terus dibahas dan dikagumi selama berabad-abad lamanya. Dari semuanya, mana yang menurutmu memiliki ciri khas paling unik? Baca Juga 7 Lukisan yang Menginspirasi Film Horor Populer DuniaYangpertama adalah Michelangelo di Lodovico Buonarroti Simoni, pelukis kelahiran 6 Maret 1475 di Caprese, Republik Florence (kini bernama Italia) dan meninggal pada 18 Februari 1564 di Roma, Negara Kepausan (Papal States). Selain dikenal sebagai pelukis adiluhung, ia juga seorang pemahat, arsitek, dan penyair Renaisans Italia, dilansir Britannica. Potret diri Vincent van Gogh. Foto Wikimedia CommonsVincent Willem van Gogh adalah salah satu pelukis paling terkenal sepanjang sejarah. Ia pelukis pasca-impresionis asal nama dan karya-karyanya baru mulai diakui dan dikenal secara internasional setelah ia pengamat seni menilai lukisan-lukisan karya Van Gogh telah melampaui hidupnya yang serbasusah, Van Gogh telah membuat karya seni, termasuk 860 lukisan cat minyak. Namun semasa ia hidup itu, hanya ada 1 lukisannya yang laku saat ini, setelah mati, hampir seluruh karya Van Gogh telah laris terjual. Sejumlah karyanya bahkan tercatat sebagai lukisan-lukisan termahal di dunia. Beberapa lukisannya yang fenomenal antara lain Portrait of Dr. Gachet, The Starry Night, dan The Potato Potato Eaters, salah satu lukisan Van Gogh. Foto Wikimedia CommonsSebelum memilih terjun sebagai pelukis, Van Gogh pernah menjadi pramuniaga di galeri seni milik pamannya di London, Inggris. Ia juga sempat jadi pelayan Tuhan di Borinage, Belgia -sebuah daerah pertambangan batubara yang dihuni penduduk kelahiran Zundert, Belanda, 30 Maret 1853 ini mulai memutuskan menjadi pelukis pada 1881 sepulangnya dari Borinage, ada kata telat untuk memulai, pikir Van Gogh di usianya yang 27 tahun lebih saat itu. Tekadnya bulat, meski banyak orang di sekelilingnya, termasuk keluarga besarnya, tak menyetujui keputusan yang ia orang yang setia mendukung keputusan Van Gogh secara total adalah Theo van Gogh, adik kandung kecil, dua dari enam bersaudara itu memang amat dekat. Theo selalu mendukung pilihan karier kakaknya. Bahkan semasa menjadi seniman miskin, Van Gogh mendapat dukungan finansial dari Theo yang seorang pengusaha van Gogh. Foto Wikimedia CommonsSelama menjadi pelukis, Van Gogh hidup berpindah-pindah. Ia sempat melukis berbagai objek di beberapa kota di Belanda dan saat tinggal di Arles, Perancis, Van Gogh mengidap gangguan jiwa alasan jelas, pada Desember 1888, ia memotong telinga kirinya dan memberikannya kepada seorang pelacur. Tentu saja hal ini membuat dia harus dirawat di rumah Gogh juga sempat dirawat di Rumah Sakit Jiwa Saint-Remy, Perancis, pada meski dirawat di RSJ, Vincent tetap rajin melukis. Banyak karya fenomenalnya yang lahir di RSJ Saint-Remy tersebut, di antaranya The Starry Night, The Olive Trees, dan Country Road in Provence by Starry Night, salah satu lukisan Van Gogh. Foto Wikimedia CommonsTheo sang adik adalah sosok di balik konsistensi Van Gogh dalam berkarya. Berulang kali penyakit kejiwaan Van Gogh kambuh, berulang kali pula Theo menanggung biaya pengobatannya. Theo pun terus memasok kanvas, cat, pensil, kertas, dan alat-alat lukis lain untuk kakaknya di manapun dia berada, termasuk di rumah sakit pulalah yang tak kenal lelah mencoba menjual lukisan-lukisan Van Gogh yang ia percaya bagus dan bernilai gagal menjual berbagai lukisan Van Gogh, tapi istri Theo, Johanna Bonger, melanjutkan perjuangan suaminya menjual lukisan-lukisan itu hingga akhirnya satu per satu lukisan Van Gogh mulai laku dan dikenal potret diri Vincent van Gogh. Foto Wikimedia CommonsVan Gogh meninggal di usia 37 tahun pada 28 Juli 1890 di Auvers-sur-Oise, Perancis. Setelah Van Gogh meninggal, kesehatan Theo sang adik berangsur-angsur memburuk. Theo kemudian jatuh sakit, diduga karena merasa amat kehilangan atas meninggalnya Van bulan setelah Van Gogh meninggal, Theo akhirnya menyusul tutup usia di Utrecht, Belanda, pada 25 Januari 1891. Jasadnya dikebumikan bersebelahan dengan makam Van Gogh di kakak-beradik yang amat dekat dan saling menyayangi itu lantas diabadikan ke dalam dua patung sosok mereka yang dibangun di Zundert, tempat kelahiran Vincent dan Theo van Gogh. Foto Wikimedia CommonsKisah hidup Van Gogh yang fenomenal diabadikan ke dalam novel biografi oleh Irving menulis buku Lust for Life setelah melakukan riset serius dengan membaca surat-surat dan catatan harian yang pernah dibuat oleh Van Gogh, mewawancarai orang-orang yang mengenal Vincent, dan mendatangi lokasi-lokasi di Eropa yang pernah didiami yang terbit 1934 itu meledak di pasaran dan membuat nama Irving Stone dikenal sebagai salah satu penulis novel biografi terbaik di dalam buku itu kemudian diadapatasi ke dalam film berjudul sama, Lust for Life, oleh Vincente Minelli pada 1956. Film yang dibintangi oleh Kirk Douglas itu sukses menyabet 1 piala Oscar dan meraih 3 nominasi piala Oscar diabadikan dalam buku dan film, kisah hidup Vincent van Gogh juga diabadikan ke dalam lagu dan sering pula dipentaskan pada pertunjukan-pertunjukan McLean, musisi Amerika Serikat, penah menciptakan lagu berjudul Vincent Starry Starry Night yang ia persembahkan untuk mengenang Vincent van hanya musisi luar negeri, seniman-seniman di Indonesia pun pernah turut membuat karya persembahan untuk pelukis yang begitu terkenal justru setelah ia 1964, Taufik Ismail, sastrawan Indonesia kelahiran Bukittinggi, pernah menggubah puisi berjudul Oda Pada van Gogh. Puisi itu kemudian dimusikalisasi oleh Bimbo, grup musik Indonesia yang beranggotakan 3 musisi bersaudara, menjadi lagu berjudul Vincent van Gogh masih dikagumi dan dinikmati oleh para pecinta seni sampai sekarang. Di Amsterdam, Belanda, Van Gogh Museum dibangun untuk mengenang karya-karya dan peninggalan pelukis kebanggaan Negeri Kincir Angin Gogh Museum. Foto PinterestHingga saat ini, kisah hidup Vincent van Gogh juga masih dibaca dan ditonton oleh banyak orang. Kisahnya bahkan turut menginspirasi orang-orang lain yang hidup setelah Mirzakhani, wanita asal Iran yang kini menjadi profesor di Universitas Stanford, Amerika Serikat, mengaku terinspirasi oleh buku Lust for Life. Wanita yang pada 2014 meraih Fields Medal -penghargaan internasional di bidang matematika empat tahunan itu, mengaku sangat terkesan oleh novel biografi Van Gogh karena mengisahkan betapa bersemangat, total, dan detailnya sang maestro dalam Mirzakhani, peraih Fields Medal 2014. Foto Indonesia, buku Lust for Life yang berbahasa Inggris sudah pernah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Serambi pada tentang biografi Van Gogh juga pernah diproduksi dan ditayangkan berulang kali, salah satunya ke dalam film berjudul Van Gogh Painted With Words pada 2010 yang dibintangi oleh Benedict ini, 2017, juga akan hadir film biografi Van Gogh lainnya dalam bentuk animasi. Film berjudul Loving Vincent ini terdiri dari frame yang merupakan gambar lukisan merealisasikan film tersebut, lukisan minyak sengaja dibuat beramai-ramai oleh sejumlah seniman dengan mengikuti gaya lukisan Van Gogh. Film ini dibuat sebagai persembahan para seniman adalah dunia Van Gogh sepanjang hidupnya, bahkan dalam berkata, “I dream of painting, and then I paint my dream.”Bukan cuma Van Gogh penderita penyakit jiwa dengan prestasi fenomenal. Simak kisah Ikuti pula rangkaian kisah berikut Salahsatu seniman yang melukis badak dengan proporsi tepat adalah Albrecht Durer (1471 - 1528). Lelaki asal Jerman itu seorang pelukis, juru gambar, dan penulis yang brilian. Pada 1515 Durer berkesempatan melukis badak, yang begitu eksotis untuk ukuran orang Eropa. Lukisan badaknya begitu sohor sehingga menjadi inspirasi karya seniman lainnya. - Raffaello Sanzio da Urbino, dikenal juga dengan nama Raphael, adalah pelukis serta arsitek zaman High Renaissance di seniman Italia lainnya Michelangelo dan Leonardo da Vinci, Raphael membentuk trinitas seni terhebat pada periode yang paling terkenal adalah Madonna. Termasuk Madonna yang ada di Kapel Sistine, serta komposisi besar di Istana Vatikan di juga Keberadaan Lukisan Termahal Dunia Karya Da Vinci Kini Diselimuti MisteriDilansir dari berbagai sumber, berikut merupakan biografi dari salah satu pelukis besar Italia Masa KecilRaphael lahir pada 6 April 1483 di Urbino, dan merupakan putra dari Giovanni Santi, seorang seniman yang bekerja bagi Duke, dan 1491 ketika Raphael berusia delapan tahun, sang ibu meninggal yang kemudian disusul ayahnya pada 1 Agustus tiga tahun piatu, Raphael dibesarkan oleh pamannya Bartolomeo yang merupakan pendeta. Setelah itu, Raphael tinggal bersama ibu keduanya mulai menghidupkan bengkel lukis milik Giovanni. Bakat Raphael yang menonjol segera menobatkannya sebagai seniman termasyur di remaja, dia pernah dipercaya bertanggung jawab atas lukisan Gereja Santo Nicola yang berlokasi di kota tetangga Raphael kemudian didengar Pietro Perugino. Seorang seniman hebat yang tinggal di Perugia, kawasan Region Umbria, Italia mengundang Raphael untuk berguru kepadanya pada 1500 yang mendapat jawaban positif, Raphael bertolak ke Perugia pada Perugia, dia belajar dengan Perugino selama empat tahun di mana dia mendapatkan kesempatan baik pengetahuan maupun pengalaman di periode pembelajaran itu, Raphael mengembangkan teknik melukisnya yang unik. Antara lain Mond Crucifixion 1502 maupun Marriage of the Virgin 1504. Baca juga Kisah Indiana Jones Dunia Seni Temukan Lukisan Picasso yang Hilang2. Pengaruh dari FirenzeSelepas empat tahun, Raphael meninggalkan Perugino dan bertolak menuju kawasan Italia utara. Di sana, dia hidup secara nomaden di Firenze pada tinggal di Firenze, Raphael mendapat pengaruh kuat dari seniman besar lain seperti Fra Bartolomeo dan Da Vinci yang kebetulan berada di sana antara memperhatikan cara kerja mereka secara khusus, Raphael mengembangkan gaya personal yang lebih ekspresif daripada lukisan tiga tahun mulai 1504 hingga 1507, dia melukis serangkaian Madonna yang merupakan ekstrapolasi dari karya Da Raphael akan tema Madonna memuncak pada 1507 ketika dia melukis La belle jardinière. Di tahun yang sama, dia memulai proyek ambisius The kemudian, dia pindah ke Roma dan mengerjakan lukisan Vatican Stanze Ruang di bawah pengawasan langsung Paus Julius pada 1509-1511, Raphael menelurkan karya yang kelak bakal dinobatkan sebagai salah satu seni terhebat pada masa High lain serangkaian fresco The Triumph of Religion dan School of Athens yang berlokasi di Stanza della Signatura menggunakan filosofi humanistik. Baca juga Polisi Pakai Lukisan Palsu untuk Menipu Pencuri jOrV.